LOMBA MENULIS SWEET LOVE STORY TABLOID NYATA

Lomba Menulis Sweet Love Story  tabloid Nyata. Alhamdulillah, tulisan Ismalinar memenangkan 25 Kisah  Terpilih. Diumumkan oleh Tabloid Nyata, Ed. 2127, 11 April 2012, hal. 06.

Iklan

IBU

Oleh Ismalinar

 

Ibu…..

masih kuingat belukar hijau di punggung tanganmu

keras jangat telapak tanganmu bedaki kulit halus pipiku

amboi ibu…..

terasa kasar, tapi nyamannya hatiku.

 

Ibu…..

masih kuingat jika kau menghilang sekejab saja

gigil tubuh kecilku meringkuk di balik tirai

berdoa agar kau tak hilang

dibawa hantu urang si bunian.

 

Ibu…..

masih kuingat bukan bim salabim di tanganmu

ubah gabah basah menjadi kering

ubah beras menjadi tepung

ubah tepung menjadi kue merah kuning hijau

ubah kue menjadi uang.

 

Ibu…..

masih kuingat jika gerimis mencium bumi

kau gegas masuk ke dalam banda

kuikuti bersama adik di pinggirnya

temanimu menjaring ikan dan udang.

 

Amboi ibu…..

masih kuingat bahagianya kami

masukkan udang ke dalam kantong

berebut petik pakis bergelung rambut

dan teriak agar kau tangkap kelapa hanyut.

 

Ibu…..

di luar hujan menderas

dingin memeluk badan duduk berapak di tikar pandan

nikmati nasi hangat dan gulai pakis bercampur udang

Ibu… nikmatnya masakanmu.

 

Ibu…..

hari terus berganti

di sudut rumah kita kau mematung sendiri

bapak tlah pergi ke rumah Tuhan

dalam diam

kau tatap nanar berjuta kenangan yang berserakan di lantai

rumah kita.                    

 

Ayo ibu, buat apa di sini!

mari bersama kami di rantau bergelut dengan cucu

daripada di rumah berteman sunyi

banda tak lagi hanyutkan air

parak dan sawah ditumbuhi rumah-rumah bersemen

kampung kita telah hilang ibu!

 

Oh ibu… gelengmu begitu kuat!

 

(Tangerang, 22 Desember 2011)


TSUNAMI

Cerpen Ismalinar (Republika, 3 April 2011)

SELESAI shalat Subuh, kubuka jendela. Semalam hujan. Aroma tanah, semerbak bunga tanjung dan melati di halaman rumah mampir di hidung. Hmm, wanginya. Di luar, masih gelap. Kulirik amak yang duduk di sajadah. Beliau larut dalam zikir dan doa-doa panjang.

Sudah dua tahun aku tidak pulang kampung. Terakhir pulang dengan suami dan anak-anak dalam rangka liburan Idul Fitri. Saat itu, amak terlihat sangat bahagia. Sayang kepulanganku saat ini sendirian dan tidak dalam suasana yang menyenangkan.

Keluarga inti kami berjumlah tiga orang, aku, abak, dan amak. Sekarang, hanya amak yang menunggui rumah. Abak sudah menutup mata. Untunglah ada Lenggo, anak sepupu jauhku yang menemani beliau.

Tek Na, Lenggo tidak kuat lagi tinggal di Padang. Lenggo takut Padang dihantam tsunami seperti di Jepang. Lenggo mau pulang ke Bukit Tinggi, balik ke rumah amak Lenggo,” suara Lenggo di ujung telepon mengagetkanku.

“Ada sehat-sehat saja, Mak?”

Amak sehat, Na….”

“Katanya, Lenggo mau balik ke Bukit Tinggi?”

Iyo, Na. Tidak bisa amak tahan lagi.”

“Karena si Lenggo mau pergi, biarlah Na pulang ke Padang manjemput Amak. Kita berkumpul di Jakarta, Mak,” aku memutuskan.

Amak tidak mau menetap di Jakarta!”

Aku meletakkan gagang telepon. Pikiranku berkecamuk. Ketika televisi menyiarkan bencana tsunami di Jepang, seorang pakar geologi mengungkapkan bahwa di bawah Pulau Siberut masih tersimpan energi yang kalau ‘meledak’ mampu menimbulkan gempa berkekuatan sekitar 9.0 Skala Richter dan ada kemungkinan diikuti tsunami. Ancaman itu menghantuiku dan juga warga Kota Padang dan sekitarnya. Tapi, tidak bagi amak-ku.

Teman-teman facebook-ku yang dari Kota Padang sering mengungkapkan keresahan tersebut di status mereka. Katanya, warga Kota Padang bagaikan orang yang telah diputuskan mendapatkan hukuman mati. Tapi, tidak tahu kapan eksekusinya.

“Badan bagai melayang. Tsunami terus membayang. Akankah kami menjadi generasi yang hilang?” tulis Gadis di akunnya. Gadis, sahabat karib Na sejak kanak-kanak. Sekarang, pertemanan mereka dilanjutkan melalui dunia maya. Na sangat merasakan ketakutan gadis. Berdiri bulu kuduk Na membaca tulisan Gadis.

Pagi ini, sesudah shalat dhuha, amak, Na, dan Lenggo duduk-duduk di teras rumah.

Amak tidak mungkin pindah ke Jakarta, Na,” amak membuka pembicaraan.

Na menatap amak lama. “Mengapa, Mak?” tanya Na dengan suara bergetar.

Amak terikat emosi dengan rumah kita, Nak, “ pelan amak berucap.

Na menatap wajah keriput amak. Kemudian, beralih ke punggung telapak tangan amak. Urat-urat besar menonjol di sana. Telapak tangan itulah yang merawat Na. Sangat besar pengorbanan amak untuk Na. Amak diminta berhenti jadi pegawai negeri oleh abak karena Na. Sejak lahir, Na mengidap penyakit jantung bawaan. Katup jantung Na bocor sehingga harus dioperasi. Na menjalani operasi jantung saat kelas lima SD. Menurut amak, setahun setelah menjalani operasi barulah Na tidak sakit-sakitan lagi. Sampai sekarang sakit jantung Na tidak pernah kumat. Entah dengan apa Na membalas jasa amak.

“Na akan berdosa dan menyesali diri seumur hidup jika amak digulung tsunami di sini,” ungkap Na dengan suara lirih.

“Itu takdir, Na. Belum tentu Kota Padang dihantam tsunami.”

“Tapi, kan begitu hasil penelitian para pakar dalam dan luar negeri, Mak.”

“Para pakar boleh meneliti dan memprediksi, tapi takdir tetap di tangan Tuhan, Nak.”

“Tapi, kita kan wajib berusaha, Mak. Lihat saja, Mak, usia orang di negara maju lebih lama daripada orang di negara berkembang. Hal itu karena masyarakat di negara maju lebih berusaha dan mampu meningkatkan kesehatan mereka. Bukankah Tuhan juga menyuruh kita berusaha?” Na mencoba mendebat amak.

Amak tahu, Na.”

“Menurut amak, apa usaha kita agar terhindar dari tsunami?” tanya Na kemudian.

“Kita bisa menghindar dari tsunami, tapi tidak dari kematian,” ujar amak pelan dan dingin.

“Karena itu, kita wajib mempertebal iman, beribadah sebanyak-banyaknya, berdoa, berzikir, dan beristigfar agar saat dijemput Tuhan kita berada dalam keadaan bertakwa pada-Nya. Kalau sudah begitu, kita tak takut mati lagi,” tambah amak lagi.

“Na setuju dengan pendapat amak. Tapi, itu tentang kematian, dan Na ingin tahu juga pendapat amak mengenai tsunami yang akan menimpa Kota Padang.”

“Jangan menyikapinya dengan berlebihan, Na!”

“Na dengar simulasinya, nanti, jika terjadi tsunami, untuk menghindarinya, sesudah gempa semua warga harus berlari ke tempat yang lebih tinggi. Untuk orang seusia amak, Na rasa sia-sia. Makanya, amak ke Jakarta saja, sama Na,” bujuk Na lagi.

“Apa pun yang akan terjadi, amak tetap di sini, Kota Padang kampung amak. Di rumah ini amak dan Na lahir, di rumah ini juga abak Na meninggal,” jawab amak garing.

Na sudah tahu kini bahwa amak tidak dapat dibujuk lagi.

Ini malam terakhir Na tidur bersama amak. Kemarin dengan mobil travel, Na dan amak mengantarkan Lenggo balik ke ibunya di Bukit Tinggi.

Menjelang malam, pikiran dan mata Na tidak bisa juga diajak tidur. “Na, ‘lah malam hari, mari tidur,” ajak amak sambil menguap. Ia tahu Na resah dan susah tidur.

Amak akan baik-baik saja,” tambah amak lagi.

Fantasi Na berlari-lari kian kemari. Ia membayangkan, sesampai di Jakarta, tiba-tiba, Na menonton Kota Padang dihantam tsunami di televisi. Amak-nya hilang ditelan lautan. Na berusaha menghilangkan pikiran jeleknya.

Aku harus berpikiran positif, tekad Na. Ia coba mengosongkan pikirannya dari rasa kekhawatiran dan bersalah meninggalkan amak sendiri. Na mulai berzikir. Na terus berzikir sampai capek dan kantuknya datang. Na pun tertidur.

Tiba-tiba, tempat tidur Na bergoncang hebat. Na dan amak terlempar ke lantai. Spontan Na menarik tubuh amak ke bawah kolong tempat tidur. Selamat. Baru saja mereka berhasil pindah, “Brak!” Lemari pakaian di kamar amak menghantam lantai. Na dan amak   tengkurap di bawah kolong. Beberapa perabotan terlempar menimpa mereka. Tangan kanan Na berpegangan pada salah satu tiang ranjang yang juga terus bergoyang. Tangan kiri Na memeluk pinggang amak. “Pegang pinggang Na, Mak. Satu lagi tangan amak pegang tiang ranjang yang di sebelah sana!” Na memberi petunjuk. Listrik padam. Bumi terus bergoncang. Berulang-ulang, terdengar barang-barang terbanting. Sepertinya, loteng di kamar amak rubuh, terdengar berdebum, mungkin menimpa ranjang besi amak dan lemari. Beruntung Na dan amak terkurung di kolong ranjang sehingga tidak menimpa mereka.

Dalam kondisi seperti itu, yang dipikirkan Na hanyalah dirinya, amak, dan Allah. Bagaimana bisa selamat dari gempa dan tsunami yang akan menelan mereka? Rasa sakit terlempar dari tempat tidur dan keluarga di Jakarta tidak muncul di memorinya. Tidak satu pun yang bisa menolong, kecuali Tuhan. Sebuah keyakinan yang membantu mereka menjadi kuat. Memasrahkan diri pada-Nya dalam harapan dan doa.

Hanya beberapa menit gampo itu datang, sekarang bumi telah tenang. “Alhamdulillah,” ucap mak dan Na.

Mak, ayo cepat kita keluar rumah!” ajak Na.

“Na, di balik kasur di bawah bantal ada senter, ambillah!”

Ternyata, untuk keluar dari kolong ranjang saja susah. Di bagian depan ranjang telah ditutupi lemari yang roboh. Di bagian belakang dan sisi kanan berbatasan dengan dinding, sisi kiri, yang biasanya lowong telah terisi penuh, dengan perkakas-perkakas, juga di sekitar tubuh Na dan amak. Na hanya bisa menjulurkan tangannya ke bawah kasur untuk mengambil senter. Syukur, dapat. Na langsung menyenter kondisi kamar yang isinya telah lintang pungkang. Tempat keluar hanya dari sisi kiri. Di sana, bertumpuk barang-barang kecil yang bisa diinjak. Na dan amak saling membantu.

Dengan susah payah, mereka berhasil berdiri di atas tumpukan barang di samping tempat tidur. Na menyenter seluruh kamar. Loteng di atas tempat tidur ambruk dan tertahan di besi tempat tidur. Lemari, pintu kamar, dan jendela copot.

“Mak kita keluar melalui pintu jendela saja. Kita harus cepat sampai di luar, mencari tempat yang tinggi. Kita kembali ke kasur, dan melompat ke jendela. Untung pintu jendelanya juga copot.”

“Iya, Na,” jawab amak singkat.

Kembali mereka berjuang. Sesampai di atas kasur, belum lagi mencapai jendela, gempa kembali datang. Gempa kedua ini lebih hebat lagi. Spontan Na dan amak, tidur mengambil posisi tengkurap. “Pegangan pada besi tempat tidur, Mak,” pinta Na. Tempat tidur mereka bagaikan ayunan. “Allah, Allah, Allah, …,” sebut mereka berulang-ulang. Aduh! Bagaimana keluar kamar? Kita harus berada di luar agar terhindar tsunami, Na membatin. “Mak!, Mak, kuat, kan, Mak?” tanya Na. Loteng triplek yang lepas dan mengatapi tempat tidur terlempar ke samping. “Pegangan yang kuat, Mak,” kata Na mempererat rangkulannya pada Mak, sementara telapak tangannya erat memegang senter. Tangan Na yang satu lagi kuat mencengkeram besi tempat tidur. Dan, tiba-tiba Na dan amak menjerit serentak. Mereka tertimpa dinding tembok yang rubuh. Hanya sekali mereka meneriakkan, “Allahuakbar!” Selanjutnya, diam dalam pingsan. Ketika siuman, Na sudah terapung-apung di air. Dia berada di atas triplek.

Di mana amak? Na terpekik dalam hati. Ternyata, untuk menggerakkan lehernya pun Na tak sanggup. Na hanya mampu memainkan bola matanya. Dengan sudut mata, Na melihat ke samping kiri dan kanan. Na tidak melihat amak-nya. Gelap, malam begitu pekat. Langit tidak berbintang. Hanya suara alunan ombak yang menemani Na. Dicobanya mengeluarkan suara memanggil amak, tapi suara Na, tidak bisa keluar. Amak di mana?

Na kembali bertanya. Ia menangis dalam hati. Kesedihan Na begitu dalam. Na merasa amak tidak ada di sampingnya. Apa yang bisa Na lakukan? Fisik Na tanpa kekuatan. Otak Na pun melemah. Yang mampu diingatnya hanya amak. Setiap mengingat amak, jantung Na terasa sakit. Air mata meleleh di pipi. Akhirnya amak ditelan tsunami, juga, sesal Na, di sela-sela tangisan batinnya.

Menyebut kata tsunami pikiran Na jadi terbuka. Kata itu membuat ingatan Na, kembali terang. Sekarang Na berada di laut? Jadi korban tsunami?Amak hilang? Bukankah Na pulang ke Padang menjemput amak? Anak-anak tinggal di Jakarta. Otak Na merangkai semua kejadian. Pulihnya kesadaran Na justru menjadi bumerang. Rasa takut luar bisa menyerang Na. Ia sendirian di tengah lautan. Rasa takut Na bersatu dengan rasa kehilangan amak dan rasa terpisah dari suami serta anak-anak. Dada Na bagaikan mau pecah menanggungnya. Sakit sekali. Napas Na jadi tersengal sengal.

“Na! Na! Na! Bangun, Nak! Shalat Subuh!” amak menggoyang-goyangkan badan Na. Na sama sekali tidak bergeming. “Na, bangun, Na. Bukankah jam delapan pagi ke bandara?” amak kembali membangunkan Na. Amak heran, tidak biasanya Na susah bangun. Selama berada di kampung Na selalu bangun sebelum waktu Subuh.

Amak mengusap-usap muka Na agar terjaga. Tak ada reaksi. Lama amak meletakkan telapak tangannya di wajah Na. Amak bagaikan tersengat kalajengking ketika mengetahui bahwa tidak terasa hembusan napas Na, di telapak tangannya. Amak menutup kedua lubang hidung Na dengan jari telunjuknya agak lama. Na tidak gelagapan. Amak memeriksa nadi, Na. Tidak ada denyutan. Amak baru menyadari bahwa tubuh Na dingin sekali. Amak tersentak. Ternyata ‘tsunami’ kecil melandanya. Takdir menjemput anak tunggalnya dalam tidur. Hanya itu yang amak ketahui. (*)

Keterangan:

Abak/Bak: ayah

Amak/Mak: ibu

Iyak/Yak: nenek

Lintang-pungkang: letaknya tidak beraturan

Pengarang adalah seorang cerpenis dan dosen pada FKIP Universitas Muhammadiyah Tangerang. Sejumlah cerpennya pernah di muat di beberapa media cetak, termasuk di Republika.


Susu untuk Mei

Aku terbangun dengan tubuh penuh keringat dan nafas tersengal-sengal. Laki-laki itu datang lagi melalui mimpi. Ia menatapku lama. Seolah-olah ada yang ingin disampaikannya. Laki-laki itu yang pernah kulihat di sebuah mall di dekat rumah kami waktu kerusuhan Mei 1998. Saat itu, sambil menggendong bayi, dengan tergopoh-gopoh aku mencari adik bungsuku ke mall. Aku tidak mau ia ikut menjarah. Karena dalam keadaan panik, di pintu gerbang mall aku menabrak laki-laki itu. Sejenak, matanya menatap bayiku dengan tajam. Dan, selanjutnya, berlari masuk mall. Seusai kerusuhan, kami warga sekitar mall menyadari bahwa banyak penjarah yang terperangkap dan terbakar di dalam mall. Setahuku, tidak ada di antara warga kompleks perumahan kami yang jadi korban. Tapi, batinku mengatakan bahwa laki-laki itu salah satu korban. Mengapa setelah 12 belas tahun ia mendatangiku melalui mimpi? Kedatangannya yang berulang-ulang menginspirasiku membuat sebuah fiksi tentang lelaki itu dan kerusuhan 98. Tentu saja jalan ceritanya sesuai imajinasiku saja.

Sore itu, seperti sore-sore kemarin, Mila berdiri di depan pintu. Ia menunggu kedatangan Mas Dani, Bola matanya memandang jalan di depan rumah. Namun, sosok Mas Dani tak kunjung tampak. Rasa kecewa menghias wajah Mila yang cekung. Tak ada lagi rona ceria di sana. Kulit mukanya kusam dan berjerawat, rambutnya kusut masai seperti jarang disisir. Mila terlalu memikirkan Mas Dani. Jika membayangkan masa-masa indahnya dengan Mas Dani, Mila terlihat tersenyum-senyum sendiri. Saat menyadari Mas Daninya tidak pernah pulang, Mila menangis berjam-jam. Sikapnya pada Mei pun tidak stabil. Adakalanya, ia memandang Mei dengan sikap terenyuh, mendekap Mei dengan penuh kasih. Sementara, Mei dilanda ketakutan berada dalam dekap ibundanya. Namun, kadang-kadang, ia mengusir Mei. Matanya memerah. “Mei…. pergi! Pergi,” ini semua gara-garamu. Pergi Mei!” hardiknya kencang. Untung ada nenek tempat Mei berlindung.

“Mama kenalkan temanku, Mei,” tiba-tiba, putriku menghentikan jemariku yang menari-nari di atas keyboard. Ia memperkenalkan teman sekelasnya. Mereka hendak mengerjakan tugas kelompok di rumah kami. Rupanya, Mei dan putriku sekolah di SMP yang sama, kelas VII. Kusambut salamnya. Tapi, mengapa nama Mei sama dengan nama tokoh ceritaku, ya? Ah, kebetulan saja, aku berusaha menghentikan tanya batinku.

Dulu, sekitar jam tujuh pagi, saat Mei, berumur dua minggu, Mas Dani keluar rumah. Ia hendak membeli susu bayi. Mila mengantarnya sampai di pintu. Sejak saat itu, Mas Dani tidak pernah pulang ke rumah. Mas Dani hilang bagaikan ditelan lautan huru-hara, tak ada kabar beritanya.

Mei lahir tepat pada tanggal 1 Mei 1998. Itu sebabnya mereka menamakannya, Meilani. Nama panggilannya Mei, diambil dari nama bulan kelahirannya, /la/ dari nama Mila dan /ni/ dari nama Dani.

Mila menikmati perannya sebagai ibu baru hanya sekitar dua minggu. Sesudah itu, kebahagiaannya terusik situasi politik. Ekonomi gonjang-ganjing. Nilai tukar rupiah terpuruk. Harga barang-barang meroket. Sembako susah didapat. Rakyat menjerit. Kepala Negara dihujat. Sikap polisi dan tentara terkesan lamban. Rakyat marah. Ketika dua mahasiswa Trisakti tertembak aparat, situasi ibukota bertambah kacau.

Sudah beberapa hari, air susu Mila yang tadinya banyak, menjadi sedikit. Mila bingung. Ia tidak mengerti, mengapa bisa demikian. Mila tidak menyadari kalau otaknya telah terseret memikirkan Negara yang kacau. Ia khawatir terjadi perang. Ia ketakutan. Selera makannya menurun. Tentu saja Mei menangis terus. Air susu, sumber kehidupannya tak lagi mencukupi. Ketika Dani pulang kantor, Mila meminta Dani membeli susu bayi di warung dekat rumah.

“Gawat! Persediaan susu, kosong. Ada sepuluh toko Mas datangi. Semua pemiliknya mengatakan susu bayi habis. Aduh! Mei minum apa?” tanya Dani panik. Malamnya Mei tidak bisa tidur karena ASI-nya kering. Air tajin dan teh manis ditolaknya.

Besoknya, Dani tidak ke kantor. Dani mencari susu untuk Mei. Aneh! Di pasar-pasar besar setok susu bayi juga habis. Ini pasti permainan pedagang. Mumpung, situasi negara sedang gawat, mereka menimbun sembako dan susu, gerutu Dani dalam bati. Dani tidak mungkin pulang dengan tangan kosong. Lama ia berpikir. Aku ke mall saja, putusnya dalam hati.

Mall terdekat dari posisinya sekarang berjarak sekitar satu kilometer. Menjelang sampai di mall, bis yang ditumpangi Dani diberhentikan sekelompok massa. Mereka menyuruh sopir balik lagi. Sopir dan kenek tak berdaya. Mereka terlalu banyak dan kuat untuk dilawan. Dani terpaksa melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Namun, sesampai di depan mall yang ditujunya, Dani kaget. Kondisinya lebih gawat lagi. Massa hilir mudik. Mereka mengeluarkan isi mal sesuka hati. Seorang bapak mengangkut sebuah televisi besar. Sesampai di pagar, dekat Dani berdiri, televisi itu jatuh, terbanting ke tanah yang berbatu.

“Yah… jatuh! Rusak dah! Ambil lagi, ah!” kata Bapak itu sambil kembali ke dalam mall. Televisi yang jatuh dibiarkannya begitu saja.

Sebuah mobil loss-back berhenti di dekat Dani. Empat orang lelaki kekar melompat turun. Mereka membawa linggis dan martil. Dengan sigap para lelaki bertato itu bergegas ke samping kanan mall. Jangan-jangan, mereka hendak membobol mesin ATM. Setahu Dani beberapa buah mesin ATM berjejer di sana.

Ya, Allah! Kenapa bisa begini? Satpam dan polisi, bahkan tentara hanya mengamati. Setiap orang bebas mengambil apa saja yang diingininya.

Seseorang wanita melenggang di halaman mall. Kedua tangannya menenteng dua kantong plastik besar berisi susu. Ia berhenti dekat Dani. Mata Dani tidak lepas memandang isi kantong yang dibawa si wanita. Mei juga butuh susu. Di sini ada susu bayi. Tapi bagaimana membelinya? Spontan, timbul niat Dani mengambil susu seperti orang-orang itu, tanpa bayar. Dani bimbang. Jika saya ikuti mereka, berarti saya mencuri. Anak saya minum susu hasil curian.

“Tidaaak!” tanpa sengaja Dani berteriak.

Tiba-tiba seorang ibu muda yang sedang menggendong bayi menabrak Dani. Mata Dani tertancap pada sang bayi. Dani seakan-akan melihat Mei. Dani melirik ibu bayi itu. Demikian juga dengan ibu si bayi. Sejenak mereka saling pandang. Mungkin ibu itu juga mencari susu, batin Dani. Aku harus mendapatkan susu Mei, Dani memutuskan.

Dengan langkah berat tapi pasti Dani masuk ke dalam mall. Sesampai di outlet susu, Dani buru-buru mengambil dua kaleng besar susu bayi. Selanjutnya, dengan tergesa-gesa, ia menuju pintu ke luar. Namun, baru beberapa langkah, lampu mendadak mati. Mall gelap. Berkali-kali Dani menabrak rak-rak tempat dagangan dan saling bertubrukan dengan orang lain.

“Ya, Allah! Pintu mall tertutup. Kita terkurung!” terdengar teriakan.

“Ada api! Ada api! Ada api!” beberapa orang menjerit-jerit.

Dalam keadaan panik, Dani mengedarkan pandangannya mencari sumber api. Benar. Di bagian belakang mall di sebelah kanan, api mulai bergejolak. Entah dari mana asalnya. Yang jelas, api itu begitu cepat merambat. Sesaat, ruang mall lantai bawah menjadi terang benderang. Pintu ke luar terlihat. Dani disergap rasa panas dan susah bernafas. Selanjutnya, penglihatannya menjadi kabur karena ruangan itu dipenuhi asap hitam. Dengan masih memegang erat dua kaleng susu bayi, Dani berlari ke arah pintu. Dani dan yang lainnya, menumpuk di sana. Tanpa dikomando, mereka mendobrak pintu berulang-ulang. Pintu itu begitu kokoh. Sementara, tenaga mereka sudah lemah. Gagal.

“Tuhaaan! Ampuni hamba. Tolong lindungi Mei. Lindungi Mila. Milaaa! Jaga Mei.” Dani berusaha berteriak namun suaranya tak lagi kencang. Kemudian, ia terjatuh. Tubuhnya menimpa tubuh beberapa orang yang lebih duluan ambruk. Mungkin, paru-paru mereka dipenuhi asap. Sebelum nyawanya meregang, dengan suara lemah Dani, masih sempat melafazkan, “Allahuakbar.”

Putriku kembali memutus imajinasiku yang sedang berlari ke sana ke mari dengan liar. “Ma, tugas kelompok kami sudah selesai. Mei mau pamit,” lapornya. Aku menghentikan ketikanku. Mei menyalamiku. Diciumnya punggung tanganku dengan sopan.

“Papanya Mei hilang waktu kerusuhan 98, lo, Ma,” tiba-tiba putriku memberi tahu.

Aku tersentak, kaget. Badanku gemetar, tokoh ceritaku berada di hadapanku. Kupandang lekat wajah Mei, ternyata sangat mirip dengan lelaki itu.

Pengarang

Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Tangerang. Dimuat di Satelit News edisi Sabtu, Minggu, 14-15 Mei 2011.


Air Mata Surti

Tidak seorang pun yang ingin jadi penduduk kelas bawah, termasuk Agus dan Surti. Alur kehidupan yang dijalani keduanya memuarakan mereka sebagai pasangan suami istri dengan seorang anak, berprofesi  buruh pabrik sepatu, tinggal di kamar ukuran tiga kali tiga meter, berpenghasilan hanya cukup untuk makan.

Surti telah dua kali melahirkan. Kesehatan anak keduanya bermasalah. Sejak lahir, setiap habis menangis tubuh mungilnya membiru. Surti membawa bayinya ke Puskesmas. Dokter mengatakan kemungkinan besar si bungsu sakit jantung. Ia dirujuk ke rumah sakit Cipto.

“Oalah Nak, hidup kita susah begini, kok ngambil penyakit orang kaya,” Surti bergumam sambil mencium pipi biru anaknya. Air matanya menetes saat menerima surat rujukan dari dokter Puskesmas.

Sebagai ibu, Surti ikhlas berhenti bekerja dan membawa anaknya berobat ke Cipto. Tapi, mereka terbentur biaya. Meskipun kartu miskin bisa diurus tetap saja ada yang harus dibayar. Dari rumahnya ke Cipto tiga kali naik angkutan umum. Pulang pergi enam kali ongkos. Dari mana uangnya? Upah Agus hanya cukup untuk membayar sewa kamar dan membeli beras. Ketika masih bekerja, upah Surti dipisahkan untuk pembeli lauk-pauk dan biaya lainnya. Sekarang,  telah berhari-hari ia tidak masuk  pabrik karena merawat anaknya. Artinya,   pemasukan dari Surti kosong.  Tidak ada jalan keluar. Si Bungsu gagal berobat ke rumah sakit besar.

Tidak sanggup hidup berat di dunia, bayi merah Surti balik kepada Sang Khalik. Pasangan itu tergoncang. Mereka merasa bersalah. Terutama Surti. Hatinya perih dan pedih. Ia terluka.

Hidup Surti dan Agus terus mengalir. Seiring dengan berjalannya waktu, luka jiwa Surti berangsur sembuh. Meski, sakitnya masih terasa. Dalam keadaan batin belum stabil tersebut, badai kembali menghantam mereka. Krismon melanda negeri pertiwi, sehingga mempengaruhi kehidupan berbagai kalangan. Agus dan Surti turut jadi korban. Pabrik tempat Surti dan Agus bekerja bankrut.

Setiap hari, Agus, Surti, dan teman-temannya tetap datang ke pabrik. Mereka bergerombol dan mengobrol. Tidak ada pekerjaan lagi. Ketika sebuah koran memberitakan bahwa pemilik pabrik tempat mereka bekerja kabur ke luar negeri, semua karyawan dan buruh tersentak. Mereka merasa kecolongan. Secara spontan mereka berdemo di depan pabrik.

Namun, beberapa hari berdemo, tidak seorang pun petinggi pabrik yang menghampiri para karyawan. Mereka raib tak berbekas. Hanya wartawan yang memotret dan mewawancarai pendemo. Karena itu, Agus dan teman-temannya memutuskan berdemo di halaman kantor Depnaker. Mereka menuntut pemerintah memaksa pemilik pabrik bertanggung jawab terhadap nasib karyawannya.

Surti putus asa. Hari-harinya dan Agus habis untuk berdemo. TV 14 inci, satu-satunya hiburan Si Sulung, telah terjual. Surti sangat ketakutan membayangkan ia dan Agus tidak punya uang sama sekali. Ia tak mampu membeli nasi saat si Sulung lapar. Si Sulung akan lapar berhari-hari dan meninggal, seperti Si Bungsu. Tubuh Surti menggigil. Sebagai ibu, ia merasa tidak berguna lagi.

Diambilnya pisau. Lama diperhatikannya sisi mata pisau yang tajam. Surti melihat Si Bungsu di sana. Ia sehat dan montok. Di punggungnya tiba-tiba tumbuh sayap. Sambil terbang kian ke mari, si Bungsu memanggil-manggil Surti. Ia mengajak Surti bermain-main di taman bunga yang indah. Surti ingin bergabung dengan si Bungsu. Gagang pisau dipegangnya erat. Ia siap melayang.

“Mama mau potong apa?” tanya si Sulung polos. Surti terperanjat. Si Sulung menyadarkannya kembali ke alam nyata. Buru-buru Surti meletakkan pisau. Dipeluknya si Sulung dengan penuh haru. Si Sulung telah menyelamatkan jiwanya. Hampir saja ia menjadi pengikut setan, setan jahat yang berwujud si Bungsu untuk menggodanya.

“Maafkan Mama, Nak. Mama tak akan meninggalkanmu. Mama akan cari uang. Kamu tidak boleh busung lapar,” Surti berjanji. “Tuhan, ampuni hamba,” mohonnya tulus. “Stop berdemo. Uang kita hanya cukup untuk bertahan seminggu, Bang,” kata Surti pada Agus.

“Tidak! Abang dan teman-teman ingin kerja lagi atau dapat pesangon. Masa kerja kita telah belasan tahun, jadi pantas dapat pesangon,” Agus bersikukuh. “Untuk makan sehari-hari, Sur, ngutanglah dulu di warung. Kalau pesangon telah keluar, semua kita bayar,” Agus tetap pada pendiriannya.

Semalaman Surti tidak bisa tidur. Ia ingin berjualan. Tapi, tidak punya modal. Surti memeras otaknya, agar dapat ide, bagaimana caranya, bisa menghasilkan uang. Tiba-tiba, Surti ingat Ipan, pengasong koran di pabrik. Sejumput harapan singgah di kepala Surti. Surti pernah mengobrol panjang lebar dengan Ipan. Dari Ipan, Surti tahu untuk berdagang koran tidak perlu modal. Yang penting mendapat kepercayaan dari agen. Kalau sudah dipercaya, ambil koran pagi, langsung dijual. Besok paginya, ke agen lagi mengambil koran yang terbit hari itu dan membayar koran yang dibawa kemarin.

“Aku akan dagang koran,” Surti memutuskan. Bibirnya tersenyum. Puas. Tapi sayang, sejak pabrik tutup Surti tidak pernah lagi bertemu Ipan. Maka ia mencari sendiri alamat agen koran. Dengan bertanya ke sana ke mari akhirnya ia berhasil menemukan rumah sang agen. Syukurlah, si agen bersedia mengutangi Surti. Ia menyarankan Surti berjualan di tempat yang ramai. Saat itu juga terbayang di pikiran Surti perempatan jalan dekat pabriknya. Siang malam perempatan itu selalu ramai.

Sore itu Surti pulang dengan tubuh dekil dan keringat di jidat. Ternyata, berdagang koran juga berat. Dini hari, ketika orang lain masih berselimut, ia harus berangkat ke bursa koran, menembus dinginnya cuaca. Begitu mendapat koran, langsung dibawanya ke tempat mangkal. Seharian menunggu pembeli, panas terik membakar kulit, setiap detik menghirup debu jalanan. Namun, Surti puas. Hari pertama ia jualan, korannya laris manis. Lima korannya bersisa, tapi bisa dikembalikan ke agen. Surti tidak menanggung rugi.

Malamnya, Surti mengibaskan dua lembar uang sepuluh ribuan pada Agus. “Bang Gus, ini untung Sur hari ini. Banyak ya, Bang,” wajahnya sumbringah. “Kalau kita punya gerobak koran yang ada rak-raknya, kita bisa dagang majalah juga. Pasti labanya lebih gede lagi. Sekarang Sur hanya bisa mengasong koran dan tabloid,” Surti menerangkan. “Tapi, kalau dagang majalah, harus kita beli kontan. Agen tidak kuat memodalinya.”

Agus tidak bereaksi. Ia terlihat bengong. Jauh di lubuk hatinya, ia malu pada Surti. Untuk mengimbangi usaha Surti mencari uang, Agus berjanji dalam hatinya akan menggantikan tugas harian Surti, memasak dan merapikan rumah, serta menjaga si Sulung. Jika ia berdemo, si Sulung akan dibawanya.

Hampir setengah tahun Agus dan teman-temannya menghabiskan waktu menuntut haknya. Atas izin Tuhan, keluar juga pesangon yang didambakan Agus. Tapi jumlahnya sedikit. Itu pun ditalangi pemerintah. Uangnya hanya cukup untuk membuat gerobak koran dan modal membeli majalah. Agus kecewa. Ia berharap, uang pesangonnya jauh lebih besar. Sebab yang di-PHK  dua orang, yaitu dirinya dan Surti. Surti menghiburnya. Dibujuknya Agus agar pasrah pada Tuhan. Ia juga mengajak Agus berjualan koran.

Siang itu Surti bersama Agus, dan si Sulung, menunggui gerobak koran. Mereka baru saja memakan nasi bungkus yang dibeli di Warteg. Sejak berjualan majalah dan punya gerobak, pembeli tambah banyak. Dagangan mereka terlihat semarak.

Tapi tiba-tiba, ketika mereka melayani pembeli, tiga mobil loosback berhenti di depan dagangan Surti. Puluhan petugas trantib melompat turun. Petugas menyuruh Surti dan Agus keluar gerobak. Selanjutnya, mereka beramai-ramai mengangkat gerobak Surti ke atas mobil. Koran, tabloid, dan majalah, ikut mereka bawa. Sebagian bahkan berserakan, terinjak kaki petugas.

Agus dan Surti terkesima. Ketika Surti melihat dagangannya terinjak-terinjak, hatinya mendidih. Bagaikan singa betina terluka Surti mengamuk. Diberikannya si sulung kepada Agus. Dengan membabi buta Surti menarik, menjambak, dan memukul seorang petugas. Ia berteriak-teriak histeris. Agus dengan sebelah tangannya menggendong Si Sulung berusaha merangkul Surti. Tapi, tenaga Surti telah berlipat ganda. Ia berontak dari rangkulan Agus.

Seorang petugas memegang kedua tangan Surti. Surti kesal, diludahinya petugas itu. Tersinggung diludahi, tangan besar sang petugas menampar pipi Surti. Melihat istrinya ditampar, Agus kehilangan kendali. Diambilnya sebuah batu di tanah dan dipukulkannya ke kepala petugas. Kepala petugas itu bocor. Darah mengucur deras.

Agus dan Surti diringkus petugas yang lain. Sebelum dibawa ke kantor polisi, petugas yang marah, karena temannya terluka, menghajar Agus. Tubuh Agus babak belur. Ia pingsan. Surti mati rasa. Pikirannya kosong. Si sulung menghilang. Seorang penculik anak, menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Surti dan Agus tidak bisa lagi memikirkan anak semata wayangnya itu.

Para petugas trantib pulang ke rumah. Bercengkerama dengan anak istri mereka. Tugas hari itu sudah dilaksanakan dengan baik. Jalan protokol telah bersih. Insentif dijamin dapat. Di balik senyum puas petugas trantib dan atasannya itu, terdengar tawa Surti bercampur tangisan pilu. Tangis yang mendayu, mengiringi lagu kehidupannya. Menyapa Agus yang linglung di penjara.

Otak Agus serasa mau pecah memikirkan keberadaan si Sulung. Mungkinkah Agus menyusul Surti ke rumah sakit gila? Aparat tak lagi peduli. Yang penting jalan bersih. Masyarakat nyaman. Tahun depan sang  penguasa bakal terpilih lagi.

“Horas Indonesiaku! Horas penguasa! Aku Surti pendukungmu! Aku adalah sampah yang harus kau buang, Tra la la la la. Kau gus-sur, Tri li li li.” Surti terus bernyanyi sepanjang waktu, diselingi seringai, tawa, tangisan, rintihan dan makian.

Dimuat di Republika Silakan Kunjungi Situsnya! 06/04/2006.
Terakhir disunting oleh ismalinar pada Februari 14, 2010 pukul 9:19 am